Mangkrak Yang Sesungguhnya : Rencana Bangun 35.000 MW. Setelah 5 Tahun Baru Terealisasi 19%

Menurut politikus Partai Demokrat, Panca Cipta Laksana, proyek listrik sebesar 35.000 MW yang dicanangkan Jokowi sejak lima tahun lalu adalah proyek mangkrak sesungguhnya karea baru terealisasi sebesar 19% selama 5 tahun proyek berjalan.


Laporan Dirut PLN

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (3/2/2020, Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini melaporkan realisasi program 35.000 megawatt (MW) baru  terealisasi sebesar 6.811 MW atau 19% per 31 Desember 2019.

Menurut Zulkifli Zaini,  pembangkit yang dalam progres konstruksi sebesar 20.167,8 MW atau setara dengan 57% dan yang dalam tahap kontrak jual beli listrik ( power purchase agreement / PPA ) namun belum konstruksi sebesar 6.877,6 MW atau 20%. Sedangkan sisanya sebesar 4%  dalam tahap pengadaan 829 MW atau 2% dan perencanaan 734 MW atau 2%.

Proyek 2014 - 2019

Bukan tanpa alasan Politikus Partai Demokrat tersebut menyebut proyek listrik 35.000 MW ini mangkrak. Proyek ini merupakan proyek jangka waktu 5 tahun (2014 - 2019) yang telah dikukuhkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Artinya, proyek listrik 35.000 MW ini sudah harus selesai pada tahun 2019. Akan tetapi per 31 Desember 2019, baru 19% proyek yang terealisasi.
'
Dikutip dari situs bumn.go.id,  pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt (MW) dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019). Sepanjang 5 tahun ke depan, pemerintah bersama PLN dan swasta akan membangun 109 pembangkit; masing-masing terdiri 35 proyek oleh PLN dengan total kapasitas 10.681 MW dan 74 proyek oleh swasta/Independent Power Producer (IPP) dengan total kapasitas 25.904 MW. Dan pada tahun 2015 PLN akan menandatangani kontrak pembangkit sebesar 10 ribu MW sebagai tahap I dari total keseluruhan 35 ribu MW.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6-7 persen setahun, penambahan kapasitas listrik di dalam negeri membutuhkan sedikitnya 7.000 megawatt (MW) per tahun. Artinya, dalam lima tahun ke depan, penambahan kapasitas sebesar 35.000 MW menjadi suatu keharusan. Kebutuhan sebesar 35 ribu MW tersebut telah dikukuhkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Komitmen pemerintah kembali ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo saat memberi pengarahan kepada Direksi dan jajaran PLN beberapa waktu lalu. Presiden menegaskan bahwa “Target 35 ribu MW bukan target main-main, itu realistis. Jadi harus dicapai dengan kerja keras,” tandas Joko Widodo. “Listrik yang cukup, adalah kunci bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Kritik Rizal Ramli

Pada awak dicanangkannya proyek tersebut, pada tahun 2015 pakar Ekonomi Rizal Ramli yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan bahwa proyek listrik 35.000 MW tersebut tidak realistis dan bisa menyebabkan PLN bangkrut. Menurut Rizal Ramli, jika PLN  bisa mencapai pembangunan pembangkit listrik sebesar 17.000 MW dalam lima tahun saja sudah merupakan prestasi luar biasa.

Ramalan Rizal Ramli terbukti,  pada tahun 2017 lalu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pernah  menyurati Menteri ESDM, Ignasius Jonan dan Menteri BUMN, Rini Soemarno, soal utang PT PLN (Persero). Dalam surat benomor S-781/MK.08/2017 itu, Sri Mulyani khawatir kondisi keuangan PLN akibat kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman. PLN juga dibebani investasi dalam proyek listrik 35.000 MW yang merupakan penugasan pemerintah. 

Baca Juga

No comments:

Powered by Blogger.