Republik Buzzer

pixabay.com

Seiring dengan perkembangan berbagai paltform media sosial (medsos) di Indonesia, turut berkembang juga fenomena buzzer terutama di dunia politik, baik itu buzzer sukarela atau relawan maupun buzzer bayaran. Fenome buzzer medsos sangat mulai terasa sejak Pemilu Pilpres 2014. Pertarungan sengit antar buzzer sangat dirasakan di dunia maya terutama Twitter dan Facebook, bahkan berlanjut sampai dengan sekarang.

Cebong VS Kampret



Dalam rentang 2014 - 2019, fenomema perang Cebong vs Kampret sangat mengemuka dan masih mewariskan dikotomi kelompok politik yang berbeda pilihan  bahkan sampai pilpres dan pasca pilpres 2019.

Sebagai pendukung pasangan Jokowi - JK, buzzer  Cebong sangat massif memperjuangkan dan membela pasangan capres  dan cawapres pasangan nomer 2 di pilpres 2014. Perang tagar di Twitter pun terjadi hampir setiap hari.

Sementara di lain pihak, buzzer Kampret tidak kalah massifnya mendukung pasangan capres dan cawapres Prabowo - Hatta yang merupakan pasangan nomer urut 1 waktu itu.

Menurut bbc.com Indonesia, sebutan ini mungkin muncul karena para haters Jokowi - JK terinspirasi oleh fakta bahwa Joko Widodo gemar memelihara kodok ketika menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta.

Karena itulah segelintir orang bahkan menyebut Jokowi sebagai 'raja kodok' - berdampingan dengan sebutan cebongers (pengikutnya). Pemimpin FPI, Rizieq Shihab sempat meledek dengan sebutan 'Jokodok.'

Sementara para pendukung Prabowo - Hatta disebut dengan istilah kampret yang merupakan binatang yang aktif di malam hari dan tidur menggelantung dengan kepala di bawah. Para haters Prabowo - Hatta menganggap cara berpikir pendukung Prabowo - Hatta terbalik tidak sesuai kenyataan, maka disebut dengan "kampret". Walaupun pada faktanya, banyak argumen pendukung Prabowo - Hatta yang lebih faktual atau sesuai dengan kondisi riil, misalnya soal hutang luar negeri.

Kadal Kebon vs Kadal Gurun



Pilpres 2019 menghasilkan istilah baru untuk buzzers masing - masing Capres - Cawapres. Kalau sebelumnya Cebong vs Kampret, di Pilpres 2019 lahir istilah Kadal Kebon vs Kadrun (Kadal Gurun), walaupun istilah cebong dan kampret masih sering digunakan juga.

Kadal kebon ditujukan untuk pendukung pasangan Capres - Cawapres Jokowi - Ma'ruf yang merupakan pasangan nomer urut  1 di Pilres 2019. Sedangkan Kadal Gurun ditujukan untuk pendukung pasangan nomer urut 2 yaitu Prabowo - Sandiaga Uno.

Istilah Kadal Gurun sebenarnya istilah yang rasis karena cenderung untuk menghina bangsa Arab. Kok bisa bisa bawa - bawa bangsa Arab di pillpres Indonesia. Ini tentunya tidak lepas dari para pendukung Prabowo - Sandi yang lebih banyak menyuarakan kepentingan umat Islam di Indonesia. Islam sendiri adalah agama yang disebarkan pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW di jazirah Arab.

Akhiri Perang Buzzer



Fenomena kelompok buzzer ini sebenarnya merupakan kondisi yang tidak sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagai beberapa pentolan dan toko buzzer cenderung provokatif dan sering berbicara tanpa data. Buzzer juga hanya bekerja untuk kepentingan mereka dan kelompoknya, dan bukan untuk kepentingan masyarakat. Untuk kasus banjir Jabodetabek awal Januari 2020 misalnya, para buzzer haters Anies Baswedan ramai - ramai menggoreng dan mempolitisasi musibah banjir untuk menyerang Anies Baswedan. Padahal sebenarnya para buzzer bukanlah warga Jakarta. Mereka ada yang warga Depok dan Bogor yang mana masuk wilayah propinsi Jawa Barat. Sementara mereka justru sama sekali menutup mata terhadap kejadian banjir di wilayah propinsi Jawa Barat. Padahal sebenarnya banjir jauh lebih parah terjadi di luar Jakarta dalam hal kerusakan akibat banjir dan jumlah pengungsi.

Berharap sosok presiden 2024 nanti mampu mempersatukan berbagai kelompok buzzer tersebut agar bangsa ini fokus membangun bangsa dan negara menjadi bangsa yang lebih maju, kuat, dan bermartabat.

Baca Juga

No comments:

Powered by Blogger.