Medan Butuh Walikota Yang Bukan Sekaleng-kaleng


Medan merupakan kota metropolitan terbesar ke-3 setelah DKI Jakarta dan Surabaya. Kota Medan dihuni oleh sekitar 2,5 juta penduduk. Banyak hal yang harus dibenahi di kota Medan, baik perbaikan infrastruktur seperti jalan, trotoar, dan drainase, juga yang lebih penting adalah pembangunan sumber daya manusianya. Medan dikenal dengan kota yang masih semrawut dengan lalu lintas yang sangat tidak tertib.  Sektor transportasi juga masih sangat ketinggalan zaman dan perlu segera diperbaiki.

Di jalan - jalan kota Medan, orang masih seenaknya menerobos lampu merah dan rambu - rambu lalu lintas lain. Jalanan kota Medan masih dipernuhi dengan angkot yang suka berhenti seenaknya sendiri tanpa mengindahkan peraturan lalu lintas dan hak - hak pengguna jalan yang lain.

Walikota Zaman Penjajahan Belanda dan Jepang

Sejarah Walikota Medan dimulai dari walikota pertama kota Medan yang dijabat oleh Daniël Mackay yang merupakan walikota berkebangsaan Belanda. Daniël Mackay menjadi walikota Medan dari Mei 1918 sampai dengan April 1931. Selama penjajahan Belanda yang berakhir pada 14 Februari 1942, Medan dipimpin oleh 4 walikota berbeda.

Sementara pada zaman penjajahan Jepang, Medan dipimpin oleh seorang Walikota yang bernama Shinichi Hayasaki dari tanggal 15 Februari  1942 sampai dengan 16 Agustus 2945.


Walikota Setelah Kemerdekaan RI

Memasuki masa kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, jabatan walikota Medan diisi oleh orang Indonesia dimuulai dengan walikota pertama  Luat Siregar yang mejnadi walikota Medan periode 3 Oktober 1945 sampai dengan 10 November 1945. Luat Siregar merupakan seorang sarjana hukum lulusan Leiden, Belanda  yang lulusa pada tahun 1934 dan kemudian membuka praktik hukum di Medan. Pada masa penjajahan Jepang, Luat Siregar diangkat menjadi sekretaris wali kota Medan dan aktif dalam Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia (BOMPA).

Selanjutnya posisi Walikota Medan diisi oleh M. Yusuf dari 10 November 1945 sampdai dengan 31 Oktober 1947. Walikota Medan yang berkuasa periode 2016 - 2020 merupakan Walikota hasil pemilukada pada  Desember 2015 yang dimenangkan oleh Dzulmi Eldin - Akhyar Nasution. Pemilukada ini menjadi pemilukada yang mengukir rekor angka golput sebesar 74.44% dari DPT sejumlah 1.985.096 .

Walikota hasil pemilukada 2015 inipun sudah dicokok oleh KPK pada operasi tangkap tangan (OTT) di bulan Oktober 2019. Dzulmi Eldin merupakan walikota Medan ketiga yang tersankut masalah korupsi. Sebelumnya ada Abdillah dan Rahudman yang tersangkut masalah yang sama.

Korupsi Menjadi Momok Pembangunan

Banyakya pejabat di Sumatera Utara pada umumnya dan kota Medan pada khususnya, mengindikasikan praktik korupsi di daerah ini masih dilanggenkan. Menurut catatan Kompas.com pada bulan Juli 2018, di luar kasus korupsi Dzulmi Eldin saja ada 9 kepala daerah di Sumut yang tersangkut masalalah korupsi.

Maraknya praktek korupsi ini benar - benar menjadi momok dan penghambat pembangunan di kota Medan. Padahal sejatinya hampir semua sektor masih harus dibenahi. Di sektor transportasi, kota Medan masih mengandalkan moda angkutan kota (angkot) yang sangat tidak disiplin dalam berlalu lintas. Merka suka berhenri seenaknya ketika menaikkan atau menurunkan penumpang, bahkan bisa di tengah jalan. Mereka juga sangat sering melakukan tindakan yang membahayakan penumpang dan pengguna jalan lain seperti misalnya dengan menerobos lampu merah seenaknya.

Kota Medan sangat memmerlukan moda tarnsportasi yang lebih maju untuk modern seperti TransJakarta untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di banyak titik di kota Medan. Sementara trotoar yang harusnya untuk para pejalan kaki, di beberapa titik dijadikan lahan parkir oleh management pusat belanja ataupun SPBU.

Medan Butuh Figur Yang Visioner, Bukan Oligarki Politik

Agar bisa membuat lompatan besar untuk memajukan kota Medan, diperlukan figur seorang Walikota yang visioner dan kredibel. Figur yang punya gagasa besar memajukan kota Medan agar tidak tertinggal dari kota besar lain seperti Jakarta. Diperlukan figur yang amanah dan tidak tergiur untuk melakukan tindakan korupsi. Figur yang bisa membebaskan diri dari ormas maupun parpol yang bisa menjerumuskannya untuk melakukan korupsi.

dahnil azhar simanjutak calon walikota medan
Dahnil Azhar Simanjuntak | foto : detik.com

Sebelumnya, banyak yang berharap figur  anak muda seperti Dahnil Simanjuntak bersedia terjun menjadi walikota Medan. Figur  anak mudan yang besih dan visoner. Nama Dahnil Simanjuntak banyak dikenal masyarakat sejak menjadi juru bicara psangan Prabowo - Sandi di Pilpres 2019 lalu. Kita tunggu Partai Gerindra akan secara resmi mengumumkan nama calon walikota Medan yang mereka usung. Apakah Gerindra akan mengusung Dahnil Azhar Simanjuntak atau kader mereka Ikhwan Ritonga yang saat ini menjabat  sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Medan. Atau malah mengusung Bobby Naustion menantu Jokowi sebagai calon walikota Medan.

Masyarakat juga masih menunggu jagoan calon walikota Medan di pilwalkot Medan 2020. Pada pilwalkot sebelumya, PKS ikut mengusung pasangan Dzulmi - Akhyar. Semoga pada pilwakot Medan 2020 ini PKS tidak lagi salah mendukung figur yang tidak amanah. PKS sebaiknya mengusung kader internal untuk menjadi Walikota Medan karena banyak kader mereka juga layak untuk dicalonkan. Atau, akankah PKS mendukung kotak kosong pada Pilwalkot Medan 2020 nanti? Wallohu a'lam.

ikhwan ritonga calon walikota medan
Ikhwan Ritonga


Jangan Bangun Oligarki Politik di Medan

Masyarakat kota Medan sangat berharap figur pemimpin yang amanah dalam mengemban tugas sebagai Walikota. Figur yang bisa membawa lompatan besar untuk kemajuan kota Medan. Warga Medan membutuhkan figur yang bebas dari cengkeraman para cukong dan pemodal politik yang bisa menyebabkan pemimpin terpilih justru mengabaikan kepentingan rakyat.

Masyarakat  kota Medan  juga tidak membutuhkan oligarkhi politik mencengkram kota Medan. Oligarkhi politik biasanya hanya untuk kepentingan kelompoknya saja dan cenderung mengabaikan kepentingan rakyatnya.

Dengan figur pemimpin yang visioner, diharapkan kota Medan bisa segera bangkit dan mengejar ketertinggalan dari kota lain seperti Jakarta atau bahkan bisa mengejar kota negara maju seperyi Singapura.






Baca Juga

No comments:

Powered by Blogger.